Bima, NTB – Di pesisir timur Pulau Sumbawa, berdiri sebuah kesultanan yang pernah menjadi pusat kebudayaan, perdagangan, dan dakwah Islam di Nusantara. Kesultanan Bima, yang lahir pada awal abad ke-17, menjadi salah satu kerajaan Islam yang berpengaruh di kawasan Indonesia timur.
Perjalanan Bima menuju kesultanan berawal ketika Raja La Kai memeluk Islam pada tahun 1620. Ia kemudian bergelar Sultan Abdul Kahir I dan dikenal sebagai penguasa pertama yang menanamkan syariat Islam dalam pemerintahan. Peran ulama dari Kesultanan Gowa, Sulawesi Selatan, sangat besar dalam proses Islamisasi ini, menjadikan Bima bagian dari jaringan kerajaan Islam di Nusantara.
Letak geografis Bima yang strategis di jalur perdagangan antara Makassar, Jawa, dan Maluku membuat kesultanan ini berkembang pesat. Pelabuhan Bima ramai disinggahi pedagang rempah, kain, hingga hasil laut. Tidak hanya sebagai pusat ekonomi, Bima juga tumbuh menjadi pusat penyebaran agama dan ilmu pengetahuan Islam.
Dalam perkembangannya, Kesultanan Bima menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Gowa. Dukungan politik dan militer dari Gowa membuat Bima lebih percaya diri dalam memperluas pengaruhnya. Namun, dinamika sejarah kemudian mempertemukan Bima dengan kekuatan baru: Belanda melalui kongsi dagang VOC.
Pada pertengahan abad ke-17, VOC mulai memperkuat cengkeramannya di wilayah timur Nusantara. Kesultanan Bima, yang sebelumnya menjalin aliansi dengan Gowa, harus menghadapi tekanan setelah Gowa dikalahkan dalam Perang Makassar (1667–1669). Bima pun dipaksa masuk dalam orbit pengaruh Belanda, meski tetap mempertahankan struktur pemerintahan dan adatnya.
Meskipun berada di bawah tekanan kolonial, Kesultanan Bima tidak kehilangan identitasnya. Syariat Islam tetap dijalankan, sementara adat Mbojo—istilah lokal untuk masyarakat Bima—dijaga ketat dalam kehidupan sehari-hari. Sultan dan para bangsawan berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara tradisi Islam dan adat leluhur.
Sultan Abdul Kahir I dan penerusnya meninggalkan warisan berupa naskah-naskah kuno berbahasa Bima, Melayu, dan Arab. Naskah tersebut mencatat hukum, silsilah, hingga tradisi lokal yang berpadu dengan ajaran Islam. Warisan intelektual ini kini menjadi sumber berharga bagi para sejarawan dalam menelusuri jejak Kesultanan Bima.
Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Istana Asi Mbojo yang berdiri megah di Kota Bima. Bangunan bercorak arsitektur tradisional dan kolonial ini dulunya menjadi pusat pemerintahan kesultanan. Kini, istana tersebut difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah, termasuk keris, mahkota, hingga dokumen kuno.
Selain istana, tradisi adat Bima yang dipengaruhi ajaran Islam masih hidup hingga kini. Upacara adat, seni tarian, hingga ritual keagamaan terus dipraktikkan masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kesultanan dalam membentuk identitas budaya Mbojo.
Kesultanan Bima juga memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme. Para sultan dan bangsawan Bima tidak jarang terlibat dalam perlawanan terhadap VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda. Walaupun pada akhirnya Bima berada di bawah kendali kolonial, semangat perlawanan tersebut tetap menjadi bagian dari sejarahnya.
Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kesultanan Bima secara resmi bergabung dengan Republik. Kekuasaan politik kesultanan berakhir, tetapi pengaruh budaya, agama, dan tradisinya tetap melekat kuat di tengah masyarakat. Figur sultan kini lebih banyak dipandang sebagai simbol budaya dan pemersatu masyarakat Bima.
Hari ini, jejak Kesultanan Bima masih bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat NTB. Dari bahasa, kesenian, hingga nilai-nilai religius, warisan kesultanan ini tetap terpelihara. Dengan Asi Mbojo sebagai pusat memori sejarah, Kesultanan Bima dikenang sebagai salah satu kerajaan Islam yang berjaya di timur Nusantara. #Divisi-08






