
Bima, 30/7/2026 (Wingku Media), – Upaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah anak, dan bebas dari kekerasan terus diperkuat melalui kegiatan Sosialisasi dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Penguatan Kearifan Nilai Budaya Bima melalui Komik Edukatif sebagai Upaya Pencegahan Kekerasan di SDN Pela, Kecamatan Monta”. Kegiatan yang merupakan bagian dari Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) tersebut berlangsung di SDN Pela pada 28–30 Juli 2026.

Kegiatan menghadirkan dua narasumber utama, yakni Ady Irawan, S.H., M.H. dan Edy Suparjan, M.Pd., yang memberikan penguatan kepada para guru mengenai implementasi kebijakan pencegahan kekerasan di sekolah sekaligus pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pengembangan media pembelajaran.
Dalam paparannya, Ady Irawan menjelaskan secara komprehensif substansi Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Lingkungan Satuan Pendidikan. Ia menekankan bahwa setiap sekolah memiliki kewajiban membentuk Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) yang bekerja mulai dari upaya pencegahan, penanganan kasus, hingga pemulihan korban.”Implementasi Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 tidak boleh berhenti pada aspek administratif semata. Sekolah harus memiliki sistem yang jelas, mulai dari mekanisme pelaporan, penanganan, hingga pendampingan terhadap korban,” ujar Ady.
Ia juga mendorong Kepala SDN Pela agar segera menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) atau Peraturan Kepala Sekolah tentang pencegahan dan penanganan kekerasan sebagai pedoman resmi di lingkungan sekolah.Menurut Ady, langkah tersebut telah diterapkan di SDN Inpres Lere pada tahun 2025 dan terbukti menjadi acuan penting dalam membangun budaya sekolah yang lebih aman dan responsif terhadap berbagai bentuk kekerasan.

Sementara itu, Ketua Tim PKM, Edy Suparjan, M.Pd., menekankan bahwa guru perlu meningkatkan kompetensi digital agar mampu menghadirkan media pembelajaran yang menarik sekaligus edukatif.
Ia memperkenalkan berbagai platform AI yang dapat dimanfaatkan guru, di antaranya ChatGPT, Gemini, Canva, dan NotebookLM, sebagai alat bantu dalam menyusun materi pembelajaran, khususnya komik edukatif berbasis nilai-nilai budaya Bima.
“Teknologi AI bukan untuk menggantikan peran guru, tetapi menjadi mitra dalam menghasilkan media pembelajaran yang lebih kreatif, efektif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik,” katanya.
Menurut Edy, tim PKM tidak hanya memberikan materi, tetapi juga akan mendampingi para guru hingga mampu menghasilkan komik edukatif yang siap digunakan dalam proses pembelajaran di kelas.
“Kami akan melatih guru secara maksimal sampai menghasilkan komik edukatif yang dapat langsung digunakan oleh siswa sebagai media pembelajaran sekaligus sarana pencegahan kekerasan di sekolah,” ujarnya.

Kepala SDN Pela, Masitah, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas kepercayaan yang diberikan kepada sekolahnya sebagai lokasi pelaksanaan program PKM.
Ia mengaku bangga sekaligus bersyukur karena SDN Pela dipilih sebagai pilot project implementasi Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 di Kabupaten Bima.
“Bagi kami, ini merupakan rezeki sekaligus kehormatan yang sangat besar. Program ini membuka kesempatan bagi guru untuk meningkatkan kompetensi, terutama dalam pemanfaatan teknologi AI, serta memperkuat budaya sekolah yang aman bagi seluruh peserta didik,” ujarnya.
Masitah berharap kolaborasi serupa terus berlanjut dengan berbagai pihak dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan dan mewujudkan pendidikan nasional yang lebih berkualitas.
Dalam sesi diskusi, para guru juga menyampaikan berbagai praktik baik dan tantangan yang mereka hadapi di sekolah.
Masitah, sekolah kami punya program “Santabe”, menjelaskan bahwa setiap pagi guru piket telah menerapkan budaya penyambutan siswa sejak pukul 07.00 WITA dengan berjabat tangan sebelum masuk kelas. Siswa juga dibiasakan memungut sampah di lingkungan sekolah dan membuat kesepakatan kelas, termasuk kewajiban meminta izin ketika hendak keluar ruangan. hal ini sebagai upaya meningkatkan keteladanan dalam diri siswa.
Ia berharap program penyusunan komik edukatif dapat menjadi media yang efektif dalam membangun karakter peserta didik.
Guru lainnya, Siti Hawa, menilai bahwa pencegahan perundungan (bullying) tidak dapat dibebankan hanya kepada sekolah.
“Gerakan anti-kekerasan bukan hanya tugas guru. Peran orang tua sangat menentukan dalam membentuk karakter anak,” katanya.
Hal senada disampaikan Pak Agus Salim, yang mengungkapkan bahwa keterlibatan orang tua dalam memahami pencegahan kekerasan masih menjadi tantangan di sekolah.
“Perlu kerja sama semua pihak agar upaya pencegahan kekerasan benar-benar berjalan maksimal,” ujarnya.
Sementara itu, Yayu Rahayu, “mengungkapkan bahwa SDN Pela sebelumnya telah menerima undangan dari dinas pendidikan untuk mengikuti kegiatan penyusunan Poster Anti-Bullying. Menurutnya, materi yang disampaikan dalam kegiatan PKM sangat relevan dengan program tersebut serta sejalan dengan program kerja INOVASI di bidang pendidikan”. ia sangat berharap Tim PKM juga membantu sekolah untuk merancang Poster Anti Bullying yang berbasis Nilai-nilai budaya Bima, Ungkapnya.
Melalui kegiatan sosialisasi dan FGD ini, para guru diharapkan semakin memahami implementasi Permendikbud Nomor 46 Tahun 2023 sekaligus memiliki keterampilan memanfaatkan teknologi AI dalam menciptakan media pembelajaran inovatif yang mampu menanamkan nilai-nilai budaya Bima serta memperkuat budaya anti-kekerasan di lingkungan sekolah.
Published; By divisi08 Wingku Media : 30/7/2026
sumber : Tim PKM STKIP Taman Siswa Bima 2026



