
Oleh : Edy Suparjan, M.Pd (Penulis & Akademis)

Wingku Media, 1 Juli 2026 – tulisan ini mencoba menganalisis peran krusial pendidikan sejarah sebagai instrumen strategis dalam mendukung pencapaian Asta Cita , visi pembangunan Indonesia Maju di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejarah diposisikan bukan sekadar disiplin akademis, melainkan fondasi ideologis, karakter, dan aset peradaban bangsa. tulisan lahir karena keresahan penulis melihat fenomena kritikkan tajam sebagian masyarakat Indonesia yang ditujukkan ke pemerintahan Prabowo-Gibran. selain itu, menjawab rencana pihak kementerian yang berupaya menutup beberapa program studi yang dianggap tidak sesuai tuntutan pasar kerja atau dunia industri.
Misi pertama Asta Cita bertujuan memperkokoh ideologi Pancasila, demokrasi, dan Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam konteks ini, pelajaran sejarah berperan sebagai instrumen ideologis utama. Sejarah bukan sekadar hafalan fakta masa lalu, melainkan alat untuk menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemahaman sejarah yang kuat diperlukan untuk memitigasi maraknya klaim kerajaan fiktif dan gerakan yang ingin mengubah bentuk negara Pancasila.
Saya melihat fenomena “amnesia” sejarah yang melanda generasi muda, di mana mereka cenderung lebih mengenal figur atau artis asing dibandingkan pahlawan nasional dari daerahnya sendiri. Hal ini sangat berbahaya karena bangsa yang tidak mengenal sejarahnya sama seperti individu yang kehilangan identitas atau kepribadiannya, yang pada akhirnya akan menghancurkan bangsa tersebut dari dalam. bukan itu saja, lebih aneh lagi bahwa sebagian besar elit politik serta pejabat-pejabat daerah kurang sekali pemahaman sejarah nasional Indonesia, hal ini menyebabkan akan ketidakmampuan mereka mengelola negeri ini.
Pancasila harus dipahami melalui lintasan sejarahnya, mulai dari pidato Ir. Soekarno pada 1 Juni 1945 hingga pengesahannya pada 18 Agustus 1945, sebagai penggabungan nilai universal dan lokal. Ekosistem pembangunan karakter bangsa menghadapi tantangan nyata di masyarakat, mulai dari memudarnya pengamalan nilai-nilai Pancasila, meningkatnya kenakalan remaja, hingga maraknya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda sampai pada tahap yang kulminasi bahwa pejabat negeri ini hanya duduk diatas kursi kekuasaan sambil mengumpulkan pundi-pundi kekayaan serta abai dalam memberikan solusi-solusi terhadap permasalahan bangsa ini. Indonesia saat ini tengah menghadapi krisis politik atau “polikrisis”, yang ditandai dengan penurunan nilai-nilai demokrasi, krisis lingkungan, serta merosotnya kesejahteraan ekonomi masyarakat. Praktik demokrasi juga memudar ketika politik dinasti dibiarkan berjalan semaunya tanpa perbincangan publik mengenai etika, sehingga masyarakat menjadi abai terhadap pelanggaran politik yang terjadi di tata negara. dan atas persoalan yang menimpa bangsa ini, lalu kita mengabaikan pelajaran sejarah bangsa ini demi mementingkan pasar serta dunia kerja sementara, makin hari kepribadian serta mentalitas generasi bangsa makin merosot dan terperosok ke jurang kesesatan yang nyata.
Misi ke-4 Asta Cita menitikberatkan pada penguatan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM), sains, teknologi, dan pendidikan. Penguasaan teknologi saja tidak cukup tanpa ketangguhan moral dan identitas. sementara, tujuan pendidikan sejarah kita adalah membentuk karakter serta identitas bangsa. sehingga, kedepannya mereka menjadi pemimpin yang tangguh, berdiri diatas kaki sendiri, berdaulat penuh serta menjadi pemimpin yang mampu memecahkan masalah bangsa. dan tentunya, tidak akan lahir seorang pemimpin yang problem solver tanpa memahami sejarah bangsanya secara utuh. Sejarawan Sartono Kartodirjo memberikan peringatan keras kepada kita, bahwa:”Sebuah bangsa yang tidak mengenal sejarahnya dapat diibaratkan seperti individu yang amnesia, pikun, atau sakit jiwa karena ia kehilangan kepribadian aslinya.”Pernyataan Kunci: Cara paling ampuh untuk menghancurkan sebuah bangsa bukanlah melalui pertempuran fisik, melainkan dengan menghancurkan ingatan kolektif mereka akan sejarahnya.
kemudian, Misi ke-8 Asta Cita menargetkan penyelarasan kehidupan yang harmonis dengan lingkungan, alam, dan budaya. Hal ini menempatkan sejarah sebagai modal pembangunan nontradisional. Menteri Kebudayaan kita, Fadlin Zon menyatakan, “kekayaan terbesar Indonesia bukanlah sumber daya alam ekstraktif seperti emas atau nikel, melainkan kebudayaan dan sejarahnya”. kedua pondasi ini haruslah menjadi pegangan serta ideologi yang kokoh ditengah arus globalisasi yang menusuk sendi-sendi moralitas bangsa. untuk itulah, menurut penulis, mereka yang tidak memahami sejarah bangsanya akan mudah terombang-ambing oleh globalisasi serta pasar global yang hanya mengandalkan materi sebagai komoditas yang diperjualbelikan. sementara, disisi lain, moral bangsa mereka rusak, terjangkit penyakit-penyakit globalisasi bahkan menjadi bangsa yang bunuh diri secara perlahan-lahan. bagi penulis, mengabaikan atau menghapus pelajaran sejarah pada level manapun baik sekolah dasar ataupun perguruan tinggi, sama dengan menghapus republik ini secara perlahan-lahan dari ingatan kolektif bangsa maupun peta pikiran bangsanya.
penulis merekomendasikan poin-poin berikut; 1). Mempertahankan sejarah sebagai mata pelajaran wajib di seluruh jenjang pendidikan menengah (SMA/SMK), bukan sebagai mata pelajaran pilihan. 2). Penanaman kesadaran sejarah tidak boleh hanya membebani guru di sekolah. Diperlukan integrasi terpadu melalui lima pusat Ekosistem “Panca Pusat Pendidikan, (keluarga, sekolah, lingkungan,tempat ibadah, ruang digital) . 3). Memahami posisi Indonesia dalam dinamika geopolitik dunia (Perang Dingin, Gerakan Non-Blok, hingga isu abad ke-21). transformasi kurikulum sejarah jenjang perguruan tinggi sebagai penjaga terakhir benteng Republik Indonesia.
Kesimpulannya: Penguatan pendidikan sejarah adalah prasyarat mutlak bagi keberhasilan Asta Cita. Tanpa pemahaman sejarah yang mendalam, pembangunan SDM dan ideologi akan kehilangan arah dan identitas dasarnya. jadi, jika ada oknum atau lembaga yang mencoba, mengurangi, mengabaikan bahkan menghapus pelajaran sejarah artinya, ia adalah seorang penghianat bangsa.



