
BIMA, 7 July 2026 – Dalam upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, inklusif, dan bebas dari tindakan kekerasan, sebanyak 20 guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) Pela mengikuti kegiatan pelatihan peningkatan kapasitas pendidik yang berlangsung selama tiga hari, 5–7 Juli 2026. Pelatihan ini menggabungkan pemahaman regulasi pendidikan terbaru dengan praktik pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) dan aplikasi desain untuk media pembelajaran.
Penguatan Regulasi: Transisi ke Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026.
Pada sesi pertama, Narasumber Ady Irawan, SH.,MH. memaparkan materi mengenai penyusunan Standar Operasional Prosedur (SOP), Tata Tertib, serta Peraturan Sekolah. Dalam penjelasannya, ia mengulas perubahan krusial dari Permendikbudristek Nomor 46 Tahun 2023 menjadi Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman.
Salah satu poin perubahan utama dalam Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 adalah transformasi Tim Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (TPPK) menjadi Kelompok Kerja (Pokja). Strukturnya dibentuk secara berjenjang mulai dari tingkat Gubernur hingga Camat, serta melibatkan unsur kepolisian dan akademisi.
Melalui regulasi baru ini, pihak sekolah diwajibkan menyusun Tata Tertib dan SOP guna memastikan penyelenggaraan pendidikan yang bebas diskriminasi, inklusif, humanis, serta berkeadilan gender. Ady Irawan menjelaskan bahwa implementasi aturan ini bermuara pada empat tujuan utama:
Pemenuhan kebutuhan spiritual;Pelindungan fisik;Kesejahteraan psikologis dan keamanan sosiokultural; sertaKeadaban dan keamanan digital di lingkungan sekolah.

Memasuki sesi kedua, Narasumber Edy Suparjan, M.Pd. membekali para pendidik dengan keterampilan praktis pembuatan komik edukatif menggunakan integrasi aplikasi NotebookLM, Gemini, dan Canva. Pelatihan ini dirancang untuk mempermudah guru merancang media visual pencegahan kekerasan berbasis nilai kearifan lokal Bima.
Para peserta diajarkan alur kerja penggunaan prompting yang optimal pada NotebookLM, mulai dari mengunggah dan mencari referensi sumber secara otomatis, menjalankan perintah pengolahan cerita melalui prompt, hingga mengodekan deskripsi visual untuk menghasilkan panel komik yang siap didesain di Canva.
Dalam pelatihan tersebut, Edy Suparjan membagikan dua prompt utama berstruktur dua panel per halaman dengan latar visual khas kebudayaan Bima:
Prompt 1 (Judul: Bersama Wujudkan Sekolah Damai dengan Maja Labo Dahu)
Mengangkat karakter Salman (siswa pembela/ upstander), Fahru (siswa pelaku perundungan), Siti (siswa korban perundungan), dan Pak Mawe (guru tegas dan arif yang menjunjung budaya lokal).
Prompt 2 (Judul: Kaco'i Angi: Merajut Toleransi, Menghapus Caci Maki)
Berfokus pada isu intoleransi dengan karakter Algaffar (siswa pindahan), Akbar (pelaku perundungan), Some (siswa bijak pembela persaudaraan), dan Pak Agus (guru arif yang memahami sejarah serta kearifan lokal Bima).Apresiasi Guru dan Optimalisasi Perangkat Sekolah
Para guru SDN Pela menyambut pelatihan ini dengan penuh antusias. Materi yang memadukan kebijakan nasional dan praktik teknologi modern ini dinilai sangat langka dan aplikatif.
Salah seorang peserta, Pak Agus, menyatakan bahwa praktik langsung ini memberikan dorongan besar bagi para pendidik untuk mengoptimalkan fasilitas sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Saya sangat menyukai dan termotivasi oleh adanya praktik langsung menggunakan aplikasi NotebookLM serta Gemini. Selama ini aplikasi AI tersebut belum pernah kami manfaatkan, padahal sekolah kami sudah memiliki perangkat Chromebook bantuan dari Kementerian Pusat. Pelatihan ini benar-benar membuka wawasan kami untuk memanfaatkan teknologi yang ada demi menciptakan media pembelajaran yang menarik dan bermakna, ungkap Pak Agus. Melalui sinergi antara regulasi Pokja Sekolah Aman dan inovasi komik edukatif berbasis nilai Maja Labo Dahu, SDN Pela berkomitmen menghadirkan iklim sekolah yang damai, ramah anak, dan berbudaya.
Di akhir sesi, narasumber memberi tugas kepada para guru.
Tugas itu meminta guru menyelesaikan dua komik menggunakan NotebookLM.
Komik itu rencananya dicetak bersama dan digunakan kembali di sekolah sebagai media literasi bagi siswa.
Quisioner Post Test diberikan sebagai evaluasi pelaksanaan pelatihan tersebut.
Setelah acara berakhir, guru bersama narasumber mendeklarasikan anti perundungan.
Deklarasi itu juga merupakan ajakan publik serta komitmen menolak kekerasan di dunia pendidikan.
Published By’ divisi 08. (6/8/2026)



