Skip to content
May 7, 2026
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
PT. Wingku Education Publishing

PT. Wingku Education Publishing

Bangsa Literat, Saling Membesarkan

Primary Menu
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
Watch
  • Home
  • Pendidikan & Budaya
  • Kesultanan Bima, Jejak Islam dan Perlawanan di Timur Nusantara
  • Pendidikan & Budaya

Kesultanan Bima, Jejak Islam dan Perlawanan di Timur Nusantara

wingkueducationpublishing August 22, 2025

Share this:

  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on X (Opens in new window) X

Bima, NTB – Di pesisir timur Pulau Sumbawa, berdiri sebuah kesultanan yang pernah menjadi pusat kebudayaan, perdagangan, dan dakwah Islam di Nusantara. Kesultanan Bima, yang lahir pada awal abad ke-17, menjadi salah satu kerajaan Islam yang berpengaruh di kawasan Indonesia timur.

Perjalanan Bima menuju kesultanan berawal ketika Raja La Kai memeluk Islam pada tahun 1620. Ia kemudian bergelar Sultan Abdul Kahir I dan dikenal sebagai penguasa pertama yang menanamkan syariat Islam dalam pemerintahan. Peran ulama dari Kesultanan Gowa, Sulawesi Selatan, sangat besar dalam proses Islamisasi ini, menjadikan Bima bagian dari jaringan kerajaan Islam di Nusantara.

Letak geografis Bima yang strategis di jalur perdagangan antara Makassar, Jawa, dan Maluku membuat kesultanan ini berkembang pesat. Pelabuhan Bima ramai disinggahi pedagang rempah, kain, hingga hasil laut. Tidak hanya sebagai pusat ekonomi, Bima juga tumbuh menjadi pusat penyebaran agama dan ilmu pengetahuan Islam.

Dalam perkembangannya, Kesultanan Bima menjalin hubungan erat dengan Kesultanan Gowa. Dukungan politik dan militer dari Gowa membuat Bima lebih percaya diri dalam memperluas pengaruhnya. Namun, dinamika sejarah kemudian mempertemukan Bima dengan kekuatan baru: Belanda melalui kongsi dagang VOC.

Pada pertengahan abad ke-17, VOC mulai memperkuat cengkeramannya di wilayah timur Nusantara. Kesultanan Bima, yang sebelumnya menjalin aliansi dengan Gowa, harus menghadapi tekanan setelah Gowa dikalahkan dalam Perang Makassar (1667–1669). Bima pun dipaksa masuk dalam orbit pengaruh Belanda, meski tetap mempertahankan struktur pemerintahan dan adatnya.

Meskipun berada di bawah tekanan kolonial, Kesultanan Bima tidak kehilangan identitasnya. Syariat Islam tetap dijalankan, sementara adat Mbojo—istilah lokal untuk masyarakat Bima—dijaga ketat dalam kehidupan sehari-hari. Sultan dan para bangsawan berperan penting dalam menjaga keseimbangan antara tradisi Islam dan adat leluhur.

Sultan Abdul Kahir I dan penerusnya meninggalkan warisan berupa naskah-naskah kuno berbahasa Bima, Melayu, dan Arab. Naskah tersebut mencatat hukum, silsilah, hingga tradisi lokal yang berpadu dengan ajaran Islam. Warisan intelektual ini kini menjadi sumber berharga bagi para sejarawan dalam menelusuri jejak Kesultanan Bima.

Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Istana Asi Mbojo yang berdiri megah di Kota Bima. Bangunan bercorak arsitektur tradisional dan kolonial ini dulunya menjadi pusat pemerintahan kesultanan. Kini, istana tersebut difungsikan sebagai museum yang menyimpan berbagai benda peninggalan sejarah, termasuk keris, mahkota, hingga dokumen kuno.

Selain istana, tradisi adat Bima yang dipengaruhi ajaran Islam masih hidup hingga kini. Upacara adat, seni tarian, hingga ritual keagamaan terus dipraktikkan masyarakat. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kesultanan dalam membentuk identitas budaya Mbojo.

Kesultanan Bima juga memainkan peran penting dalam perjuangan melawan kolonialisme. Para sultan dan bangsawan Bima tidak jarang terlibat dalam perlawanan terhadap VOC dan kemudian pemerintah Hindia Belanda. Walaupun pada akhirnya Bima berada di bawah kendali kolonial, semangat perlawanan tersebut tetap menjadi bagian dari sejarahnya.

Setelah Indonesia merdeka pada tahun 1945, Kesultanan Bima secara resmi bergabung dengan Republik. Kekuasaan politik kesultanan berakhir, tetapi pengaruh budaya, agama, dan tradisinya tetap melekat kuat di tengah masyarakat. Figur sultan kini lebih banyak dipandang sebagai simbol budaya dan pemersatu masyarakat Bima.

Hari ini, jejak Kesultanan Bima masih bisa disaksikan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat NTB. Dari bahasa, kesenian, hingga nilai-nilai religius, warisan kesultanan ini tetap terpelihara. Dengan Asi Mbojo sebagai pusat memori sejarah, Kesultanan Bima dikenang sebagai salah satu kerajaan Islam yang berjaya di timur Nusantara. #Divisi-08

About the Author

wingkueducationpublishing

Administrator

Visit Website View All Posts

Like this:

Like Loading...

Related

Post navigation

Previous: Hello world!
Next: Literasi Hukum: Sistem Peradilan Anak

Related News

48e33b2a4272f33474e228bbf0e3b2d5
  • News
  • Pendidikan & Budaya

P3SI Tegas Tolak Wacana Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri

wingkueducationpublishing April 28, 2026
taman siswa bima bimtak
  • Pendidikan & Budaya

Walikota Bima, Hadiri Acara Bimtaq Mahasiswa Baru STKIP Taman Siswa Bima

wingkueducationpublishing September 22, 2025
WhatsApp-Image-2025-09-08-at-19.30.19-1024x768.jpeg
  • Pendidikan & Budaya

STKIP Yapis Dompu Gelar Pelatihan Software Simulator untuk Guru SMK Bangun Negeri Hu’u

wingkueducationpublishing September 9, 2025

Recent Posts

  • P3SI Tegas Tolak Wacana Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri
  • RAPAT PENYERTAAN MODAL BUMDES DAN VERIFIKASI PROPOSAL PENGURUS BARU DIGELAR DI DESA PELA
  • Dana Desa Tahap I 2026 Tuntas: Pagar Beton di So Tonda Pela Lindungi Lahan Petani
  • Apa dan Mengapa Militer Berpolitik?
  • MANAJEMEN PENJAS DAN OLAHRAGA

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025

Categories

  • Artikel & Opini
  • Blog
  • Hukum Ekonomi
  • News
  • Opini Pakar
  • Pendidikan & Budaya
  • Produk
  • Sosial Politik
  • Wisata & Jelajah Alam

You may have missed

48e33b2a4272f33474e228bbf0e3b2d5
  • News
  • Pendidikan & Budaya

P3SI Tegas Tolak Wacana Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri

wingkueducationpublishing April 28, 2026
WhatsApp Image 2026-04-26 at 22.54.40
  • Artikel & Opini
  • News

RAPAT PENYERTAAN MODAL BUMDES DAN VERIFIKASI PROPOSAL PENGURUS BARU DIGELAR DI DESA PELA

wingkueducationpublishing April 27, 2026
WhatsApp Image 2026-04-25 at 23.18.12
  • Artikel & Opini
  • News

Dana Desa Tahap I 2026 Tuntas: Pagar Beton di So Tonda Pela Lindungi Lahan Petani

wingkueducationpublishing April 26, 2026
  • News
  • Opini Pakar

Apa dan Mengapa Militer Berpolitik?

wingkueducationpublishing April 9, 2026
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
%d