Skip to content
May 13, 2026
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
PT. Wingku Education Publishing

PT. Wingku Education Publishing

Bangsa Literat, Saling Membesarkan

Primary Menu
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
Watch
  • Home
  • Artikel & Opini
  • Ketika Simulacra Mengaburkan Realitas Kekuasaan
  • Artikel & Opini

Ketika Simulacra Mengaburkan Realitas Kekuasaan

wingkueducationpublishing August 30, 2025

Share this:

  • Share on Facebook (Opens in new window) Facebook
  • Share on X (Opens in new window) X

Oleh : Edy Suparjan

source: https://www.tempo.co

Demonstrasi besar yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2025 di depan Gedung DPR RI tidak sekadar menyuarakan penolakan terhadap kenaikan tunjangan mewah anggota legislatif—melainkan membuka luka sejarah dan mencerminkan sebuah kenyataan politik yang terdistorsi oleh simbol dan representasi. Aksi mahasiswa dan buruh di tengah krisis ekonomi ini mencerminkan ketidakadilan struktural, saat aspirasi rakyat yang merana—akibat kelangkaan gas elpiji, pengangguran, dan beban pajak—berhadapan dengan perilaku elit politik yang tampak tak peka.

Sejarah Bergema: 17 Oktober 1952 dan pesan militer terhadap DPR

Kilas balik ke 17 Oktober 1952 menghadirkan gambaran pelik hubungan militer–sipil di era Demokrasi Liberal. Saat itu, KSAD Kolonel A. H. Nasution bersama tujuh panglima daerah mendesak pembubaran Dewan Perwakilan Rakyat Sementara (DPRS) karena dianggap mencampuri urusan internal militer. Demonstran yang diorganisir oleh militer bergerak menuju Istana Merdeka, diikuti tekanan dari meriam dan tank. Namun Presiden Sukarno dengan tegas menolak tunduk pada paksaan—menyatakan bahwa ia “tidak akan menjadi diktator”, dan memilih mempercepat pemilu daripada membubarkan parlemen.

Peristiwa tersebut menjadi kritik keras terhadap dominasi militer dalam politik dan mempertanyakan legitimasi parlemen. Ini menjadi landasan penting untuk mengkritik kekuatan politik yang melewati batas konstitusional.

Kenaikan Tunjangan DPR dan Reaksi Publik

Kini, lebih dari 70 tahun berselang, narasi seakan berulang dalam bentuk baru. Direktur komunikasi DPR sempat mengusulkan kenaikan gaji dan tunjangan rumah mencapai Rp 50 juta per bulan, di tengah kondisi ekonomi yang menimpa mayoritas rakyat. selain itu, tunjangan beras 12 Juta, tunjangan bensin 7 juta per bulannya. belum lagi tunjangan-tunjangan lainnya.

Efeknya: rakyat merasa dikecewakan. Dalam konteks demonstrasi pada 28–29 Agustus 2025, tuntutan untuk “bubarkan DPR” atau cabut kenaikan tunjangan muncul sebagai simbol penolakan terhadap representasi yang tak lagi merepresentasikan rakyat. Jika dulu militer yang menuntut pembubaran parlemen demi privilegenya, kini rakyat yang menuntut agar lembaga paling tinggi legislatif itu kembali berfungsi sebagai wakil sejati, bukan panggung kenyamanan elit.

Ketegangan Simbol dan Realitas: Memaknai Simulacra Baudrillard

Jean Baudrillard, dalam teori simulacra, menyampaikan bahwa di era modern, realitas sering digantikan oleh representasi yang bahkan tak pernah merujuk pada hal nyata—yang lebih nyata daripada realitas, namun justru mengaburkan realitas asli.

Contohnya:

Lembaga legislatif menjadi simulakrum—bukan representasi pilihan rakyat, melainkan entitas yang mempertontonkan kekuasaan dan kemewahan.

Narasi kenaikan tunjangan bukan berbicara soal kebutuhan legislator, melainkan sebuah visualisasi simbolik ketidakpedulian elit terhadap penderitaan rakyat.

Simulacra menciptakan “hyperrealitas”—dimana realitas diciptakan oleh citra, bukan sebaliknya. Demonstrasi itu, maka, adalah bentuk protes terhadap teori hiper-real; rakyat menuntut agar DPR kembali menjadi realitas: menjadi wakil yang hidup dari aspirasi rakyat, bukan citra kekuasaan yang jauh dari dasar.

Intervensi Asing: Klaim AM Hendropriyono

Di tengah ketegangan tersebut, Mantan Kepala BIN, A. M. Hendropriyono, menyebut bahwa demonstrasi tidak murni spontan: ada intervensi oleh aktor non-negara—seperti George Soros, George Tenet, David Rockefeller, Bloomberg—yang “menggerakkan kaki tangan” dari luar negeri untuk memperkeruh suasana, membuat eskalasi kerusuhan.

Menurutnya, pihak-pihak ini bukan negara, tetapi punya pengaruh besar terhadap kebijakan yang kemudian tampak sesuai dengan usulan mereka. Dalam kerangka simulacra, ini memperparah distorsi realitas: bukan hanya citra kekuasaan yang digelapkan, tetapi juga ditunggangi oleh narasi global kapital yang siap menunggangi konflik lokal.

Kesimpulan & Seruan

1. Kesadaran historis: Sejarah 1952 mengingatkan kita bahwa tuntutan pembubaran DPR bukanlah suatu konsep asing. Namun motifnya telah bergeser—dulu militer, kini rakyat.

2. Penguatan institusi: DPR harus kembali berfungsi sebagai representasi rakyat—tidak lewat tunjangan fantastis dan citra kemewahan, tetapi lewat kerja nyata dan empati. Realitas mereka harus nyata, bukan sekadar pertunjukan.

3. Waspada terhadap distorsi: Demo yang murni bisa disusupi—narasi lokal bisa dimanipulasi oleh aktor tak terlihat sebagai alat simulacrum—menjelma jadi perang citra, bukan adegan perubahan.

4. Berpegang pada realitas rakyat: Rakyat yang menderita, butuh kebijakan pro-rakyat, bukan representasi kosong. DPR perlu dikembalikan pada realitas: menjadi pelayan publik, bukan panggung simbol.

Penutup

Dalam era di mana citra dan representasi sering menutupi realitas, demonstrasi ini adalah teriakan rakyat agar kenyataan kembali diberi ruang. Republik adalah realitas yang harus dihidupi oleh lembaga-lembaga rakyat, bukan hanya dilihat. Semoga opini ini menginspirasi agar DPR kembali ke fungsi dasar: menjadi wakil rakyat, bukan maestro simulacra. untuk generasi, kita lihat kondisi Indonesia sedang krisis, jangan sampai kita semua dapat di adu domba oleh pihak asing. mari kita berikan kesempatan kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mendisiplin seluruh aparatur negara.

[1]: https://id.wikipedia.org/wiki/Peristiwa_17_Oktober?utm_source=chatgpt.com “Peristiwa 17 Oktober”

[2]: https://en.wikipedia.org/wiki/17_October_affair?utm_source=chatgpt.com “17 October affair”

[3]: https://tirto.id/para-perwira-angkatan-darat-tuntut-parlemen-dibubarkan-bUWo?utm_source=chatgpt.com “Para Perwira Angkatan Darat Tuntut Parlemen Dibubarkan”

[4]: https://www.merdeka.com/peristiwa/17-oktober-1952-saat-meriam-tni-paksa-soekarno-bubarkan-dpr.html?utm_source=chatgpt.com “17 Oktober 1952, saat meriam TNI paksa Soekarno …”

[5]: https://kumparan.com/kumparannews/hendropriyono-ngaku-tahu-dalang-demo-ricuh-dpr-dari-luar-negeri-25kCmw568CF?utm_source=chatgpt.com “Hendropriyono Ngaku Tahu Dalang Demo Ricuh DPR”

About the Author

wingkueducationpublishing

Administrator

Visit Website View All Posts

Like this:

Like Loading...

Related

Post navigation

Previous: SELEKSI PERANGKAT DESA PELA ALA KPK: TRANSPARANSI DAN INTEGRITAS JADI PRIORITAS
Next: Hadiri…! Kegiatan Pelatihan Pembuatan Komik Pencegahan Kekerasan di SD Inpres Lere

Related News

WhatsApp Image 2026-04-26 at 22.54.40
  • Artikel & Opini
  • News

RAPAT PENYERTAAN MODAL BUMDES DAN VERIFIKASI PROPOSAL PENGURUS BARU DIGELAR DI DESA PELA

wingkueducationpublishing April 27, 2026
WhatsApp Image 2026-04-25 at 23.18.12
  • Artikel & Opini
  • News

Dana Desa Tahap I 2026 Tuntas: Pagar Beton di So Tonda Pela Lindungi Lahan Petani

wingkueducationpublishing April 26, 2026
WhatsApp Image 2025-11-10 at 18.14.44(1)
  • Artikel & Opini

Hukum Pidana dan Dosa Ekologis: Tragedi Penggundulan Hutan di Bima dan Dompu

wingkueducationpublishing November 11, 2025

Recent Posts

  • P3SI Tegas Tolak Wacana Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri
  • RAPAT PENYERTAAN MODAL BUMDES DAN VERIFIKASI PROPOSAL PENGURUS BARU DIGELAR DI DESA PELA
  • Dana Desa Tahap I 2026 Tuntas: Pagar Beton di So Tonda Pela Lindungi Lahan Petani
  • Apa dan Mengapa Militer Berpolitik?
  • MANAJEMEN PENJAS DAN OLAHRAGA

Recent Comments

No comments to show.

Archives

  • April 2026
  • March 2026
  • February 2026
  • December 2025
  • November 2025
  • October 2025
  • September 2025
  • August 2025

Categories

  • Artikel & Opini
  • Blog
  • Hukum Ekonomi
  • News
  • Opini Pakar
  • Pendidikan & Budaya
  • Produk
  • Sosial Politik
  • Wisata & Jelajah Alam

You may have missed

48e33b2a4272f33474e228bbf0e3b2d5
  • News
  • Pendidikan & Budaya

P3SI Tegas Tolak Wacana Penutupan Prodi Berbasis Kebutuhan Industri

wingkueducationpublishing April 28, 2026
WhatsApp Image 2026-04-26 at 22.54.40
  • Artikel & Opini
  • News

RAPAT PENYERTAAN MODAL BUMDES DAN VERIFIKASI PROPOSAL PENGURUS BARU DIGELAR DI DESA PELA

wingkueducationpublishing April 27, 2026
WhatsApp Image 2026-04-25 at 23.18.12
  • Artikel & Opini
  • News

Dana Desa Tahap I 2026 Tuntas: Pagar Beton di So Tonda Pela Lindungi Lahan Petani

wingkueducationpublishing April 26, 2026
  • News
  • Opini Pakar

Apa dan Mengapa Militer Berpolitik?

wingkueducationpublishing April 9, 2026
  • Home
    • Home
  • Katalog Buku
    • Produk
  • Layanan Penerbitan
    • Terbit Buku
    • Konversi Artikel Ilmiah
    • Pengurusan HKI
    • Desain Layout Buku
  • News
    • Politik Hukum
    • Artikel & Opini
    • Olahraga & Kesehatan
    • Pendidikan & Sosial Budaya
    • Wisata & Jelajah Alam
    • Opini Pakar
    • Diskusi & Kajian
    • Motivasi & Kiat Sukses
  • PROFIL PENERBIT
    • Tentang Kami
Copyright © All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
%d